Langsung ke konten utama

Turats Islam: Antara Ajakan Untuk Mengabadikan, Menghancurkan, dan Memperbaharui Turats

Agama Islam merupakan pedoman dasar untuk membuat manusia pemeluknya hidup teratur sesuai yang diajarkan agama itu. Agama diklaim sebagai “kebenaran mutlak” karena dipercayai ajarannya bukan berasal dari manusia melainkan ilmu dan aturan Tuhan yang diturukan kepada manusia melalui utusan-Nya.
Agama mutlak adalah wahyu Tuhan yang diturunkan berupa al- Qur’an dan Sunah Nabi Saw. Agama yang diterima oleh seorang nabi adalah mutlak dan agama yang dipahami oleh manusia terhadap ajaran seorang nabi adalah relatif. Ketikaagama disampaikan oleh nabi kepada selain nabi, maka hukum relativitas pun berlaku. Dari sinilah manusia membentuk pemahaman relatifnya terhadap sesuatu yang mutlak itu yang kemudian disebut sebagai mazhab.
Mazhab adalah cara pandang orang-orang yang tidak mutlak dan tidak suci terhadap yang suci dan mutlak. Sederhananya mazhab adalah agama yang relatif. Islam adalah agama wahyu yang disampaikan Allah kepada Nabi Muhammad Saw. Setiap muslim pasti meyakini hal itu dan memastikan bahwa ajaran beliau adalah kebenaran wahyu yang suci. Sedangkan umatnya yang terdiri dari orang-orang yang tidak suci dan tidak bisamenangkap wahyu mutlak, maka pemahaman terhadap wahyu yang tersampaikan melalui Al-Qur’an dan Sunah Nabi Saw. tidak akan pernah sama seperti wahyu yang diterima Nabi Saw.
Turats Islam (Khazanah keilmuan Islam klasik) adalah bagian dari buah interpretasi manusia terdahulu dalam menangkap wahyu yang dijelaskan Nabi, untuk itu Turats Islam bukanlah sesuatu yang baku dan tidak boleh berubah dan berkembang. Sikap ulama dan sebagian umat terhadap Turats setidaknya terbagi menjadi tiga, sebagian ingin mengabadikannya dan tidak menginginkan inovasi, sebagian ingin merubahnya secara total karena dianggap tidak relevan dengan zaman ini, dan sebagian lain ingin memperbaharui Turats Islam yang dianggap tidak sesuai dengan zaman ini.
Pembaharuan dalam Islam bukan dalam hal yang menyangkut dengan dasar atau fundamental ajaran Islam; artinya bahwa pembaharuan Islam bukanlah dimaksudkan untuk mengubah, memodifikasi, ataupun merevisi nilai-nilai dan prinsip-prinsip Islam supaya sesuai dengan selera zaman, melainkan lebih berkaitan dengan penafsiran atau interpretasi terhadap ajaran-ajaran dasar agar sesuai dengan kebutuhan perkembangan, serta semangat zaman.
Namun, melakukan pembaharuan tidaklah tugas mudah, sebagian tokoh hanya menjadikan isu pembaharuan sebagai syarat intelektual saja, dalam artian hanya sebatas teori yang abstrak. Hal itu bisa dilihat dari seminar-seminar para tokoh agama dalam membahas pembaruan Islam, setelah seminarselesai tidak ditemukan aktualisasi terkait teori yang dipaparkan dalam seminar-seminar lokal maupun interlokal itu. 
Syeikh Mahmud Saltut adalah tokoh pembaharu di Al-Azhar yang memliki ide/gagasan brilian, hanya saja gagasannya tidak bertahan lama karena harus melawan hegemoni ulama yang ingin mempertahankan Turats Islam di lingkungan Al-Azhar. Salah satu gagasan yang diaktualkan oleh beliau adalah memasukkan Fikih Ja’fariyah dalam kajian fikih di lingkungan Al- Azhar, hal ini merupakan aktualisasi gagasan untuk merekatkan hubungan antara dua mazhab besar ini agar menjadi dua sayap yang saling menopang untuk kemajuan umat Islam.Gagasan itu tidak bertahan lama, akibat yang dirasakan saat ini adalah ditemukannya dalam jumlah yang tidak sedikit mahasiswa dan lulusan Al-Azhar yang membabi buta dalam memandang Syiah Ja’fariyah.

Oleh: Hasbi Anshori Rambe, Mahasiswa S2 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Salah satu panelis pada acara Webinar Internasional Turats dan Tajdid).
Editor: Alif Rafdi

 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Penganugrahan Ushuluddin 2025: Menyalakan Semangat, Merawat Dedikasi

Qoah Burj, 19 Juli 2025 — Senat Mahasiswa Fakultas Ushuluddin sukses menggelar Penganugerahan Ushuluddin 2025 dengan tema " Appear Dedication to Maintain the Future ". Acara ini menjadi ajang apresiasi atas dedikasi mahasiswa berprestasi serta bentuk terima kasih kepada para donatur dan mitra yang telah mendukung perjalanan SEMA-FU selama ini. Acara dibuka pukul 12.05 siang waktu Kairo oleh pembawa acara dan pembacaan Al-Qur’an oleh Istikhori Azis. Dalam sambutannya, Neal Coutsar, selaku ketua panitia menegaskan bahwa Penganugerahan ini bukan sekadar bentuk penghargaan, namun juga ajang menyalurkan semangat dan membangun budaya akademik yang sehat. Dr. Rahmat Aming Lasim, M.B.A., selaku Koordinator Fungsi Penerangan dan Sosial Budaya KBRI Kairo turut menyampaikan bahwa mahasiswa luar biasa adalah mereka yang mampu melampaui batas muqarrar  dan tidak setengah-setengah dalam menuntut ilmu. Rangkaian acara dilanjutkan dengan pemaparan esai dari kandidat calon Mahasiswa Berpresta...

Fenomena dan Dinamika Talaqqi: Sebuah Analisa Terhadap Optimasi Keilmuan Masisir

Pendahuluan Dalam buku Journal of Islamic Studies yang diterbitkan Universitas Oxford, Universitas alAzhar Kairo berkali-kali disebutkan sebagai kampus dengan kajian keislaman terbaik, bahkan dinobatkan sebagai kampus yang paling berpengaruh dalam penyebaran ajaran keislaman di dunia. Hal ini dikarenakan sistem pembelajarannya yang masih cenderung autentik dari ratusan tahun yang lalu, yaitu dengan bermulazamah terhadap seorang guru atau yang dikenal sebagai ‘syekh’ serta menggunakan kurikulum keilmuan yang sudah disusun sesempurna mungkin oleh para pendahulu. Sistem pembelajaran ini kemudian dikenal dengan istilah at-Ta’alum fi al-Jami’ wa al-Jami’ah , tentu istilah tersebut tidak asing dalam pengetahuan mahasiswa Indonesia di Universitas alAzhar Kairo (masisir). At-Ta’alum fi al-Jami’ adalah kegiatan belajar-mengajar yang diikuti oleh murid di luar wilayah kampus, seperti di dalam masjid al-Azhar. Sebaliknya, at-Ta’alum fi al-Jami’ah adalah kegiatan belajar-mengajar para mahasis...

Day-1 Pekan Keilmuan: Seminar Fakultatif Menjadi Langkah Konkret SEMA-FU dalam Mencegah Salah Pilih Jurusan

Aula DAHA KMJ, 12 Juli 2025 – Sebanyak 63 mahasiswa Fakultas Ushuluddin memadati Aula DAHA KMJ hari ini dalam Seminar Fakultatif pembuka Pekan Keilmuan. Acara yang digagas Senat Mahasiswa Fakultas Ushuluddin ini menghadirkan penjabaran mendalam tentang empat penjurusan ( tasy'ib ). Seminar yang dimoderatori langsung oleh Ketua Senat Mahasiswa Fakultas, Wildan Akbar Fathurrahman menghadirkan mahasiswa yang ahli pada masing-masing syu'bah : Syu'bah Akidah dan Filsafat dijelaskan secara gamblang oleh Mohammad Ghibran Alwi Syu'bah Dakwah dipaparkan oleh Farhan Ali Ishaqi. Syu'bah Tafsir dihadirkan oleh Holilur Rohman M.Zubaidi, Lc., M.A. Syu'bah Hadis dijelaskan oleh Ustazah Alya Mafais, Lc., Dipl.  Di berbagai sesi, para pemateri menyampaikan pesan serupa tentang memilih penjurusan. Mereka secara tegas menekankan: "Tidak ada jurusan yang secara mutlak susah atau mudah. Setiap syu'bah memiliki tantangan dan karakteristiknya masing-masing. Kunci untuk mampu ...