Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2026

Day 3 ITTIBA' 2026: Meneguhkan 'X' dalam Integrasi Arah Intelektual Mahasiswa Baru

Sebagai penutup rangkaian kegiatan, SEMA-FU menyelenggarakan hari ketiga ITTIBA’ 2026 pada Rabu (08/04/2026) di Markaz Syekh Zayed, Hay Sadis. Mengusung subjudul “ Case Closed …”, kegiatan ini berfokus pada upaya mengintegrasikan tujuan mahasiswa baru di Mesir, khususnya di Universitas Al-Azhar Fakultas Ushuluddin, serta mengajak peserta menimbang antara mimpi dan realitas, kemudian mereaktualisasikan nilai Azhary dan Ushuly dalam perjalanan akademik mereka. Acara diawali dengan sambutan Ketua Pelaksana, Muhammad Hafid Akbar, yang menyampaikan harapan besar agar kegiatan ini memberikan manfaat nyata dan dapat tersampaikan dengan baik kepada seluruh peserta. Sambutan kemudian dilanjutkan oleh Wakil Ketua SEMA-FU, Farzan Gumilang, yang menyampaikan apresiasi serta refleksi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan acara. Turut hadir mewakili Presiden PPMI Mesir, Ahmad Mawardi, Lc., yang menegaskan urgensi tema yang diangkat dalam ITTIBA’ 2026 sebagai bekal awal mahasiswa b...

Day 1 ITTIBA’ 2026 SEMA-FU: Membumikan Ruang Intelektual dalam Orientasi Mahasiswa Baru

ITTIBA’ 2026 hari pertama diselenggarakan di Hadiqah Dauliyah, Hay Sabi’, Nasr City, Kairo pada Sabtu (04/04/2026), dengan membawa semangat “membumikan ruang intelektual dalam orientasi mahasiswa baru.” Sebuah upaya menghadirkan orientasi yang tidak hanya bersifat seremonial, tetapi benar-benar menjadi ruang tumbuh bagi kesadaran, dan pijakan awal mahasiswa baru. Konsep Breakout Room dihadirkan melalui 6 majelis bersama pemateri yang mumpuni, untuk menghidupkan nilai jāmi’ dan jāmi’ah serta mengintegrasikan tujuan mahasiswa baru dalam studi di Mesir. Kegiatan dilanjutkan dengan 10 Small Group Discussion bersama fasilitator, yang mengajak peserta menggali dan menemukan “X” dalam diri masing-masing. Seluruh rangkaian berlangsung secara outdoor di Hadiqah Dauliyah dengan suasana belajar yang terbuka dan reflektif. Berangkat dari dua fondasi utama, "Reaktualisasi nilai Azhari dan Ushuliy serta integrasi tujuan mahasiswa baru di Mesir", ITTIBA’ 2026 mengangkat tema Operation X...

Menyelamatkan Akal dari David Hume: Mengapa Kita Harus Percaya Sebab-Akibat?

Oleh: Muhammad Aiman Hakim Sebab-Akibat adalah pembahasan yang sangat penting di dalam Islam. Karena beberapa pondasi Islam sedikit banyak didasari atas konsep tersebut. Para ulama misalnya membuktikan eksistensi Tuhan dengan menetapkannya sebagai sebab primer yang tidak lagi disebabkan oleh yang lain. Mengingkari konsep sebab-akibat melahirkan konsekuensi yang fatal. Dengan mengingkarinya, seseorang bisa menyangkal keniscayaan adanya sebab dari setiap akibat. Dan mengingkari keniscayaan sebab dapat membuat seseorang mengingkari keniscayaan adanya Tuhan.  Dalam sejarah pemikiran, terdapat salah satu filsuf yang dikenal karena konsepnya mengenai sebab-akibat, yaitu David Hume. Filsuf kenamaan Skotlandia tersebut hidup di zaman ketika sains berkembang dengan spektakuler dengan munculnya nama-nama seperti Newton, Galileo, Kepler, dll. Menghadapi kesuksesan besar dari sains modern, Hume terdorong untuk membuat model filsafat yang sama terjaminnya dengan sains modern dengan mengandalkan...

Memaknai Kerusakan Alam sebagai Krisis Spiritual: Sebuah Perspektif Tasawuf

Oleh : Marinda Sekar Di tengah janji pembangunan dan kemakmuran ekonomi oleh pemerintah—yang nampaknya belum juga dirasa oleh rakyat—Indonesia saat ini sedang disapa oleh amarah alam berupa banjir yang meluluhlantahkan, juga tanah longsor yang melenyapkan banyak kehidupan. Dan agaknya banyak pernyataan nirempati atas bencana yang terjadi, justru keluar dari mulut para pemangku kebijakan. Bencana-bencana seperti ini sering mereka sebut sebagai musibah alam atau faktor alamiah seolah-olah manusia hanya menjadi korban pasif dari siklus alam yang kejam. Padahal, jika ditilik kembali dan ingin jujur dalam menatap jejak kerusakan di baliknya seperti, sungai meluap dan tersumbat, lereng yang dibiarkan gundul—tampaklah jelas bahwa bencana tersebut adalah buah dari sebuah cara pandang dan pola relasi yang keliru antara manusia dan alam. Krisis ekologis yang sedang kita hadapi saat ini agaknya bisa penulis sebut merupakan hakikat dari krisis spiritual dan makna. Alam direduksi maknanya menja...