Langsung ke konten utama

Weekly Profile ke-9 Prof. Mahmud Hamdi Zaqzuq

Biografi Prof. Mahmud Hamdi Zaqzuq*
 

Burung-burung berkicau, pepohonan menari, dedaunan melambai. Begitulah suasana bahagia di tengah terik siang hari itu tanggal 27 Desember 1933 M di Kampung Dhahrea, Distrik Syarbin, Provinsi Daqahlea menyambut kelahiran bayi mungil bernama Mahmud Hamdi Zaqzuq.
Tiada yang menyangka, bocah kecil itu akan terkenal namanya dari belahan Barat hingga Timur bumi. Pasalnya dia hanyalah anak yatim miskin. Ayahnya meninggal saat dia baru berusia tujuh tahun. Posisi pengasuh diambil alih oleh kakak kandungnya, Mutawalli Zaqzuq.
Kejeniusan Mahmud mulai nampak sejak belia dengan menghafal Al-Qur’an dan menjuari lomba tingkat nasional.
Mahmud mulai mengenyam pendidikan di Pesantren Al-Azhar Dimyath pada tahun ajaran 1946/1947 M. Selama menjadi siswa, ia sangat peka dan kritis dengan realita yang terjadi di sekitarnya, semua curahan hatinya tentang pengamatan permasalahan ia tumpah-ruahkan pada catatan harian. Kondisi negara kala itu memang tengah menghadapi fase-fase genting.
Para siswa Al-Azhar di Ibtida’i memiliki program-program unggulan, banyak dari mereka memiliki bakat, keahlian dan kecerdasan mengungkapkan perasaan dalam bentuk sya’ir. Sebagian berhasil menembuskan karya tulisnya di majalah ternama. Di antaranya Mahmud Zaqzuq yang menulis di Majalah Ar-Risālah tahun 1953 M dua artikel berjudul: Al-Azhar dan Revolusi dan Iqtibās dari Al-Qur’an”.
Tahun 1956 M, dia mulai memasuki bangku perkuliahan di Fakultas Bahasa Arab. Fakultas ini saat itu memiliki dua syu’bah: pertama, syu’bah Ilmu Bahasa dan Sastra. Kedua, syu’bah Ilmu-Ilmu Filsafat. Mahmud sendiri memilih jurusan kedua. Disana ia diajar langsung oleh seorang filosof besar Dr. Muhammad Al-Bahi.
Di luar jam belajar kuliah, Mahmud aktif mengikuti forum-forum yang diisi oleh para professor, sastrawan dan pujangga yang sering diadakan di beberapa universitas atau panggung di Kairo. Kairo saat itu terkenal dengan gudang para budayawan, penyair dan pemikir. Dia sering mendengar tokoh idolanya Abbas Al-Aqqod, Ahmad Husein Az-Zayyat dan penyair-penyair besar lainnya.
Pada tahun 1959 M, dia meraih gelar License dari Fakultas Bahasa Arab. Setahun berikutnya 1960 M, mendapatkan ijazah magister dan sertifikasi mengajar.
Perjalanan ke Jerman
Sejak lama, putera kampung ini menyimpan impian belajar di bawah Langit Eropa. Untuk mencapai impian ini, tentu dia harus memenuhi persyaratan menguasai bahasa Asing. Karena itu, sore harinya dia aktif mengikuti kegiatan ekstrakulikuler pelatihan bahasa Asing yang difasilitasi Al-Azhar mengajarkan Bahasa Inggris, Prancis, Jerman, Indonesia, Urdu dan Bahasa Teluk.
Kekagumannya pada sang guru, Dr. Al-Bahi mendorongnya memilih belajar Bahasa Jerman yang dilatih langsung oleh native speaker. Dia bersungguh-sungguh dan tekun dalam kursus itu. Sehingga ketika diadakan seleksi lima orang untuk pertukaran mahasiswa ke Jerman, Mahmud terpilih menjadi yang terbaik dalam pemilihan itu. Dia pun berangkat menggenggam impiannya ke Jerman 14 Juni 1962 M bersama empat mahasiswa Al-Azhar Asy-Syarif lain.
Ini menyadarkan para pembaca semua betapa atensi para tokoh Al-Azhar dan fleksibelitasnya dalam mendorong pelajarnya untuk menambah bekal ilmu sebanyak-banyaknya ke belahan bumi manapun. Inilah Al-Azhar yang tidak pernah seharipun menutup diri dari mengkonservasikan warisan turats dan mengadopsi perkembangan-perkembangan zaman terbaru. Inilah salah satu faktor Al-Azhar tetap kokoh sebagai benteng pertahanan ilmu Islam.
Di Jerman, pertama kali Mahmud terdaftar di Marburg University. Tak lama kemudian, ia pindah ke Munich University, salah satu universitas ternama di Jerman. Disana ia mengambil konsentrasi Filsafat.
Sistem penilitian di sana, peneliti diperkenankan memilih sendiri dosen pembimbingnya. Maka Mahmud Zaqzuq memilih Prof. Reinhard Laut. Sang professor mengusulkan proyek penelitian “Metode Skeptisme oleh Rene Descartes dan Al-Ghozali” untuk tema disertasi. Dia setuju menggarap tema itu dan menjalin kesepakatan dengan penguji. Karena Mahmud harus banyak merujuk pada karya-karya Al-Ghozali pada risetnya, sedangkan Prof. Reinhald tidak mengerti bahasa Arab, maka ia menyerahkan kepada Prof. Anton Butler, seorang orientalis kawakan sebagai pembimbing tambahan.
Dr. Zaqzuq akhirnya berhasil meraih gelar P.Hd pada Juli 2986 M dengan predikat Sangat Baik.
Dr. Zaqzuq dalam Menghadapi Isu Kenegaraan di Barat
Setelah Jerman mendeklarasikan dukungan untuk Israel tahun 1964 M, hubungan diplomasi anatar Mesir dan Jerman memburuk. Di Munich terdapat Forum Studi Komunitas Pelajar Arab. Saat itu, Dr. Zaqzuq dan Dr. Mahmud Fahmi Hijazi menerjemahkan artikel milik Haikal yang dipublish oleh Al-Ahram berjudul “bi shorāhah. Artikel ini berbicara blak-blakan soal hubungan antara Mesir dan Jerman. Forum Studi ini tak hanya berorientasi di bindang pendidikan, juga politik dan sosial. Walaupun kondisi demikian, pemerintahan Jerman tidak memutuskan beasiswa untuk pelajar Arab.
Come-Back ke Mesir: Jihad Ilmu dan Pena
Sebelum berangkat ke Jerman, Dr. Zaqzuz telah diterima bekerja di bagian Pusat Pengembangan Peradaban Islam di Majma’ Al-Buhūts Al-Islamiyyah. Sepulangnya dari jihad ilmiah di Jerman, dia mendapatkan jabatannya dimutasi sebagai pengajar di Madrasah Ibtidaiyah. Namun dengan kebijakan Syaikh Abdul Halim Mahmud, dia dikembalikan sebagai pegawai di Majma’ Al-Buhūts walau hanya magang yang tidak memiliki pekerjaan pasti. Padahal kalau menetap di Jerman, prospek kariernya cukup prestisius sebagai dosen di Jurusan Orientaslisme, namun jiwa nasionalisme mendorongnya memilih kembali ke Tanah Air.
Tahun 1969 M, Fakultas Ushuluddin Al-Azhar Kairo dan Fakultas Dār Al-Ulūm mengumumkan pembukaan lowongan untuk dosen filsafat. Dia mendaftarkan diri dan diterima di kedua Fakultas itu. Dengan arahan gurunya Dr. Al-Bahi, beliau mengurungkan kesepakatan dengan Dār Al-Ulūm untuk fokus mengajar di Universitas Al-Azhar.
Tahun 1972 dipinjamkan ke Libia sebagai pengajar di Tripoli University, disana menetap empat tahun lalu kembali ke Mesir.
Tahun 1980 lagi-lagi dipinjamkan ke Qatar, di sana ditetapkan sebagai wakil dekan Fakultas Syari’ah. Setelah kontraknya habis dan kembali ke negeri, tahun 1987 M ia ditetapkan sebagai dekan Fakultas Ushuluddin Kairo berdasarkan hasil voting suara para Profesor.
Selama menjabat sebagai Dekan, beliau menaruh perhatian besar mengembangkan perpustakaan, merintis majalah ilmiah fakultas, beliau juga memanfaatkan para ilmuan pendatang dari Eropa untuk menyampaikan kuliah dan mengorek informasi dari para orientalis. Tak heran di masanya, banyak ilmuan berdatangan dari Jerman.
Tak lama kemudian, turun keputusan menaikkan jabatannya sebagai wakil rektor Universitas Al-Azhar cabang Banat. Dua bulan kemudian diangkat sebagai Menteri Wakaf Mesir.
Menjabat Menteri Agama
Dr. Mahmud Hamdi Zaqzuq bekerja sebagai menteri wakaf selama lima belas tahun sejak tahun 1996 M. Sebenarnya guru beliau Prof. Reinhald tidak senang dengan jabatan ini, karena menurutnya muridnya ini lebih layak dengan kesibukan akademis.
Namun Dr. Mahmud menyimpan misi besar untuk memperbaiki besar-besaran kementerian wakaf. Misi ini terlihat berbuah positif selama beliau menjabat, antara lain:
1.        Memperbaiki pengurusan masjid dan memperindah arsitekturnya
2.       Penertiban dakwah dengan menerapkan sertifikasi resmi para da’i yang diatur UU No. 238 Tahun 1996 M.
3.       Pengembangan diri para imam baik dari segi keilmuan maupun tunjangan.
a.       Dari segi keilmuan mengadakan pelatihan pengembangan Imam dengan diklat dan perkumpulan di bawah naungan kementerian. Untuk mendorong peningkatan imam ini, sang menteri membuat sistem kenaikan pangkat dengan empat tingkatan.
b.      Dari segi tunjangan, sang menteri mengupayakan kenaikan gaji imam. Pada 2007 setiap imam digaji 100 LE perbulan, tahun 2009 naik menjadi 200 LE dan tahun 2010 bertambah lagi menjadi 250 LE.
4.      Mengembangkan dana wakaf dengan mengivestasikannya.
5.       Meningkatkan kinerja Al-Majlīs Al-A’lā li Asy-Syu’ūn Al-Islāmiyyah sebagai mimbar keilmuan dan pemikiran. Semua programnya ini terealisasi dengan apik. Di antaranya dengan merangkul semua masjid swasta di bawah pengurusan kementerian wakaf sejumlah 6000 masjid dalam setahun.
6.       Menjaga masjid dari upaya pengrusakan dengan UU No. 113 Tahun 2008 M pelarangan demonstrasi di lantai dan emperan Masjid. Kala itu marak dilakukan demonstrasi sampai menginjak kesakralan Masjid dengan sepatu, termasuk Masjid Al-Azhar. Bahkan keadaan memarah sampai penyerangan kepada pribadi Grand Syaikh Imam Al-Akbar Muhammad Sayyid Thanthawi.
7.       Memperbaiki pengelolaan harta pembayaran diyat narapidana yang serig dijadikan sasaran empuk oleh orang-orang yang tidak takut kepada Allah.
8.       Membangun perpustakaan umum di Masjid-Masjid besar.
9.       Memberi perhatian besar pada aspek pendidikan dan keilmuan dengan memperbanyak pengadaan seminar-seminar keilmuan, lebih spesifiknya Kantor Urusan Tertinggi  Urusan Islam mengadakan lima belas konferensi besar pertahun bertema: Islam dan Masa Depan Peradaban, Demografi Islam Abad ke-25, Resolusi Peradaban sebagai Kebangkitan Dunia Islam, Islam dan Perubahan-Perubahan Zaman, Pembaharuan Pemikiran Islam, Meneguhkan Identitas Islam di Dunia yang Berubah-Ubah, Masa Depan Umat Islam, Toleransi dalam Kultur Islam, Problematika Dunia Islam Era Globalisasi dan Solusinya, Rekonstruksi Keamanan Sosial dalam Persefektif Islam, Pembaharuan Pemikiran Islam, Maqāshid asy-Syarī’ah al-Islamiyah, Isu-Isu terkini dan Sakralitas dalam Agama dan Sejarah.
10.    Menerbitkan banyak ensiklopedia besar yang disusun oleh para Ulama besar, di antaranya:
a.       Ensiklopedia Spisesial Al-Qur’an: 900 halaman.
b.      Ensiklopedia Ilmu Hadits: 1051 halaman.
c.       Ensiklopedia Tokoh-Tokoh Pemikir Islam: 1211 halaman.
d.      Ensiklopedia Peradaban: 983 halaman.
e.       Ensiklopedia Pengaturan Syari’at Islam: 783 halaman.
f.        Ensiklopedia Sekte-Sekte dan Madzhab-Madzhab di Dunia Islam: 886 halaman.
g.       Ensiklopedia Thasawuf Islam: 808 halaman.
h.      Ensiklopedia Filsafat Islam: 1054 halaman.
i.         Ensiklopedia Aqidah Islam; 1235.
11.     Kementerian saat itu melakukan langkah nyata menyebarkan pemahaman Islam yang lurus. Majlīs al-A’lā li Asy-Syu-ūn Al-Islāmiyah sebagai ujung tombak menerbitkan banyak proyek signifikan:
a.       Terjemahan Ma’na-Ma’na Al-Qur’an ke Bahasa Inggris, Prancis, Jerman, Rusia, Spanyol, Indonesia dengan dibagi secara gratis.
b.      Buku berjudul “Klarifikasi Islam Menjawab Serangan-Serangan Para Promotor Keraguan”, dalam 670 halaman.
c.       Buku-buku saku tentang pelurusan pemahaman yang keliru, seperti Membongkar Terorisme, Salaf dan Salafiyah, Cadar, Khitan dan lainnya.
Kementerian Agama di bawah kendalinya juga melakukan program unggulan di antaranya:
1.        Membeli saham pabrik pembuatan karpet masjid di Damanhur, menjadi pusat pemroduksian karpert-karpet dengan kualitas tinggi.
2.       Menginvestasikan dana wakaf dengan membeli 50.000 are lahan di Uwainah Timur (bagian Barat Daya Mesir) dikelola dengan baik dan memberi pemasukan besar.
3.       Membangun Nur Mubarok Egypt University of Islamic Culture di Kazakhstan seluas 6000 m2 di Kota Besar Almaty.
4.      Menyelesaikan Rumah Sakit khusus pengobatan para Da’i estafet dari menteri sebelum beliau masih batu-batu pondasi. Di masa itu, rumah sakit ini termasuk rumah sakit termewah di Mesir.
15 tahun menjabat bukan waktu singkat, namun beliau menyelesaikan tugasnya dengan tangan yang bersih dan jiwa suci tanpa tersentuh satu kasuspun.
Karya-Karya
Cendikiawan besar ini produktif menyusun karya-karya ilmiah. Adapun Karya berbahasa Arab terhitung mencapai 29 buah kitab:
1.        Tamhīd li al-Falsafah (Pengantar Ilmu Filsafat)
2.       Al-Manhaj Al-Falsafi baina Al-Ghozāli wa Dīkart (Metodologi Filosofis Persefektif Al-Ghozali dan Rene Descartes)
3.       Al-Istisyrāq wa al-Kholfiyyah al-Fikriyyah li Ash-Shirā Al-Hadhōri (Orientalisme dan Keterbelakanagan Pemikiran dalam Konteks Pergulatan Peradaban)
4.      Ad-Dīn wa Al-Hadhōroh (Agama dan Peradaban)
5.       Haqōiq Islāmiyah fī Muwājahati Hamalāt At-Tasykīk (Sikap Islam dalam Menghadapi Para Pembuat Keraguan)
6.       Dirāsat fī al-Falsafah al-Hadītsah (Studi Filsafat Modern)
7.       Madhkol fī al-Falsafah al-Islamiyyah (Pengantar Ilmu Filsafat Islam)
8.       Muqoddimah fi ‘Ilmi al-Akhlāq
9.       Muqoddimah fī al-Falsafah al-Islamiyyah
10.    Al-Islām fī Mir-āti al-Fikr al-Gharbiy (Islam dalam Kaca Mata Pemikiran Barat)
11.     Al-Islām fī ‘Ashri al-‘Aulamah (Islam di Era Globalisasi)
12.    Al-Hadhārah Farīdhah Islamiyyah
13.    Al-Islām wa Qadhāya al-Hiwār
14.   Al-Islām wa al-Gharb
15.    Humūm al-Ummah al-Islamiyyah
16.    Al-Insān wa Al-Qiyam fī At-Tashowwur Al-Islāmi
17.    Tsalāts Rosā-il fī al-ma’rifati li al-Imām Al-Ghozāli: Tahqīq wa Dirāsah
18.    Al-Islām fī Tashowwurāt al-Gharb
19.    Al-Islām wa Musykilāt al-Muslimīn fī Almania
20.   Al-Islām wa Qadhāya al-Ashr
21.    min A’lām al-Fikr al-Islāmi al-Hadīts
22.   Al-Islām wa Qadhāya al-Insān
23.   Maqāshid asy-Syarī’ah al-Islāmiyyah
24.  Mafātih al-Hadhārah wa Tahaddiyyat al-Ashr
25.   Al-Fikr ad-Dīni wa Qadhāyā al-Ummah al-Islāmiyyah
26.   Al-Muslimūn fi Muftaraq ath-Thuruq
27.   Al-Fikr ad-Dīni wa Qadhāya al-Ashr
28.   Ad-Dīn li al-Hayāh
Karya dan Terjemahan dalam Bahasa Asing:
1.        Berbahasa Jerman ada empat kitab:
a.       Studi Perbandingan Aliran Filsafat Al-Ghozali dengan Aliran Filsafat Descartes
b.      Mengenal Islam
c.       Isu-Isu Tentang Islam
d.      Islam dan Perbincangan Aktual
2.       Buku-buku beliau yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris:
a.       Sikap Islam Menghadapi para Promotor Keraguan Agama
b.      Memahami Tujuan dalam Pensyari’atan dan Urgensi Pembaharuan
c.       Peran Islam dalam Mengembangkan Pemikiran Filsafat
d.      Relasi Kulturan Dunia Islam dan Barat
e.       Perdamaian dalam Kacamata Islam
3.       Buku-buku beliau yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Prancis:
a.       Sikap Islam Menghadapi para Promotor Keraguan Agama
b.      Dialog Muslim dan Kristiani
c.       Dialog Tematik bersama Paus Vatikan
4.      Terjemahan ke Bahasa Caucasus:
a.       Sikap Islam Menghadapi para Promotor Keraguan Agama
b.      Islam dan Isu-Isu Aktual
d.       Terjemahan ke Bahasa Rusia, Thailand, Spanyol dan Indonesia: Sikap Islam Menghadapi para Promotor Keraguan Agama
5.       Terjemahan ke Bahasa Turki dan Indonesia: Orientalisme dan Keterbelakanagan Pemikiran dalam Konteks Pergulatan Peradaban
6.       Terjemahan ke Bahasa Bosnia: Studi Perbandingan Aliran Filsafat Al-Ghozali dengan Filsafat Descartes
Selain itu, beliau juga mengalih-bahasakan buku berbahasa Jerman ke Bahasa Arab, di antaranya:
a.       Buku Pengantar Pemikiran Filsafat karya Buchinsky
b.      Tim Penerjemah kitab Sejarah Sastra Arab karya Bruckelman.

Penghargaan-Penghargaan
Dr. Zaqzuq dianugerahi banyak penghargaan atas berbagai prestasi gemilangnya, di antaranya:
1.        Penghargaan Negara atas jasa dalam Ilmu Sosial: 1997 M
2.       Bintang kehormatan dari Republik Jerman
3.       Bintang kehormatan Nomor 1 atas konstribusi pengembangan ilmu dan skill: 2014 M
4.      Penghargaan Internasional dari Presiden Tunis atas Konstribusi dalam Ilmu-Ilmu Islam: 2003 M.
Tergabung dalam kenggotaan di berbagai lembaga-lembaga keilmuan, di antaranya:
1.        Anggota Pusat Riset Islami
2.       Anggota Dewan Ulama Senior Al-Azhar Asy-Syarif
3.       Anggota Majelis Cendikiawan Muslimin
4.      Ketua Ikatan Filsafat selama 20 tahunan sampai sekarang
5.       Anggota Lembaga Intelektual Mesir
6.       Anggota Ikatan Penulis Mesir
7.       Anggota Pembina Akademi Eropa dalam pengembangan Ilmu dan Skill di Salzburg, Austria.
Dr. Zaqzuq memiliki banyak jam terbang menyampaikan kuliah di forum-forum keilmuan dan wawasan di kota-kota Eropa. Sampai sekarang konstribusi untuk umat tetap deras. Semoga Allah selalu memberikan kesehatan dan memanjangkan umurnya.


* Sumber: Biografi Prof. Dr, Mahmud Hamdi Zaqzuq oleh Prof. Dr. Ibrahim Hud Hud
Diterjemahkan oleh: Muhammad Zainuddin Rz

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Penganugrahan Ushuluddin 2025: Menyalakan Semangat, Merawat Dedikasi

Qoah Burj, 19 Juli 2025 — Senat Mahasiswa Fakultas Ushuluddin sukses menggelar Penganugerahan Ushuluddin 2025 dengan tema " Appear Dedication to Maintain the Future ". Acara ini menjadi ajang apresiasi atas dedikasi mahasiswa berprestasi serta bentuk terima kasih kepada para donatur dan mitra yang telah mendukung perjalanan SEMA-FU selama ini. Acara dibuka pukul 12.05 siang waktu Kairo oleh pembawa acara dan pembacaan Al-Qur’an oleh Istikhori Azis. Dalam sambutannya, Neal Coutsar, selaku ketua panitia menegaskan bahwa Penganugerahan ini bukan sekadar bentuk penghargaan, namun juga ajang menyalurkan semangat dan membangun budaya akademik yang sehat. Dr. Rahmat Aming Lasim, M.B.A., selaku Koordinator Fungsi Penerangan dan Sosial Budaya KBRI Kairo turut menyampaikan bahwa mahasiswa luar biasa adalah mereka yang mampu melampaui batas muqarrar  dan tidak setengah-setengah dalam menuntut ilmu. Rangkaian acara dilanjutkan dengan pemaparan esai dari kandidat calon Mahasiswa Berpresta...

Fenomena dan Dinamika Talaqqi: Sebuah Analisa Terhadap Optimasi Keilmuan Masisir

Pendahuluan Dalam buku Journal of Islamic Studies yang diterbitkan Universitas Oxford, Universitas alAzhar Kairo berkali-kali disebutkan sebagai kampus dengan kajian keislaman terbaik, bahkan dinobatkan sebagai kampus yang paling berpengaruh dalam penyebaran ajaran keislaman di dunia. Hal ini dikarenakan sistem pembelajarannya yang masih cenderung autentik dari ratusan tahun yang lalu, yaitu dengan bermulazamah terhadap seorang guru atau yang dikenal sebagai ‘syekh’ serta menggunakan kurikulum keilmuan yang sudah disusun sesempurna mungkin oleh para pendahulu. Sistem pembelajaran ini kemudian dikenal dengan istilah at-Ta’alum fi al-Jami’ wa al-Jami’ah , tentu istilah tersebut tidak asing dalam pengetahuan mahasiswa Indonesia di Universitas alAzhar Kairo (masisir). At-Ta’alum fi al-Jami’ adalah kegiatan belajar-mengajar yang diikuti oleh murid di luar wilayah kampus, seperti di dalam masjid al-Azhar. Sebaliknya, at-Ta’alum fi al-Jami’ah adalah kegiatan belajar-mengajar para mahasis...

Day-1 Pekan Keilmuan: Seminar Fakultatif Menjadi Langkah Konkret SEMA-FU dalam Mencegah Salah Pilih Jurusan

Aula DAHA KMJ, 12 Juli 2025 – Sebanyak 63 mahasiswa Fakultas Ushuluddin memadati Aula DAHA KMJ hari ini dalam Seminar Fakultatif pembuka Pekan Keilmuan. Acara yang digagas Senat Mahasiswa Fakultas Ushuluddin ini menghadirkan penjabaran mendalam tentang empat penjurusan ( tasy'ib ). Seminar yang dimoderatori langsung oleh Ketua Senat Mahasiswa Fakultas, Wildan Akbar Fathurrahman menghadirkan mahasiswa yang ahli pada masing-masing syu'bah : Syu'bah Akidah dan Filsafat dijelaskan secara gamblang oleh Mohammad Ghibran Alwi Syu'bah Dakwah dipaparkan oleh Farhan Ali Ishaqi. Syu'bah Tafsir dihadirkan oleh Holilur Rohman M.Zubaidi, Lc., M.A. Syu'bah Hadis dijelaskan oleh Ustazah Alya Mafais, Lc., Dipl.  Di berbagai sesi, para pemateri menyampaikan pesan serupa tentang memilih penjurusan. Mereka secara tegas menekankan: "Tidak ada jurusan yang secara mutlak susah atau mudah. Setiap syu'bah memiliki tantangan dan karakteristiknya masing-masing. Kunci untuk mampu ...