Langsung ke konten utama

Berselancar Menuju Cita-cita yang Paripurna


Runtuhnya Uni Soviet sebagai gembong blok Komunis menandakan usainya perang dingin yang ‘berkobar’ sejak tahun 1947 hingga Desember 1989. Hasil dari perang yang masif tapi ‘terselubung’ ini adalah kemenangan blok kapitalis yang dipimpin oleh Amerika Serikat. Karena kemenangan itulah akhirnya dunia ini seakan dipimpin oleh sistem kapitalisme yang mereka buat.

Kapitalisme punya ciri khas perkembangan dan kemajuan. Karena dalam mengejar profit, ia bersifat seperti ‘bunglon’, berubah sesuai kondisi tempat dimana dia berdiri. Ketika ada kritik pada sebuah aspek dalam perusahaan, ia akan menyesuaikan dan memperbaiki kesalahan itu agar profit perusahaan terus berkembang.

Misalnya, ketika dahulu kaum Komunis berteriak keras tentang hak buruh yang sangat tidak dipenuhi oleh para pengusaha, akhirnya para pengusaha kini memperbaiki hal-hal itu. Mereka membuat sistem asuransi pegawai, membuat standar upah, memberi tunjangan-tunjangan, dan berbagai cara untuk ‘mengayomi’ buruh-buruh ini. Tentunya semua upaya itu demi profit para pengusaha.
Pembahasan singkat tentang kapitalisme ini sangat penting supaya bisa memberikan konteks yang jelas untuk isi artikel yang saya tulis.

Setelah perang dingin usai, muncul sebuah argumen yang mengatakan bahwa manusia akan hidup pada masa ‘pasca sejarah’. Di mana manusia tidak perlu lagi menentukan arah gerak dunia, dan di masa ini manusia akan hidup dengan nuansa perkembangan yang berkepanjangan.

Manusia akan menjadi sangat progresif dalam berbagai sektor. Kemajuan dan pertumbuhan akan menjadi poros utama dalam proses pergerakan dunia. Semua pergerakan kemajuan itu -tentunya- didorong dan difasilitasi oleh kapitalisme yang sangat adaptif terhadap situasi dan kondisi.

Kita menerima fakta bahwa saat ini kemajuan dan perkembangan menjadi sangat subur dimana-mana. Hari ini anda memegang ponsel paling canggih, bulan depan ponsel anda sudah ketinggalan zaman. Dunia saat ini memang bergerak dalam tempo yang luar biasa tergesa.

Sampai disini, mari kita buat 2 pertanyaan.

Pertama, apakah benar manusia kini hidup dalam era ‘pasca sejarah’? Bahwa manusia tidak butuh lagi perubahan falsafah hidup dan merasa cukup dengan sistem kapitalisme yang masyhur saat ini? 

Jawabannya tidak.

Menurut Richard Haass dalam bukunya The Word: A Brief Introduction, kita masih hidup di masa pengukiran sejarah, bukan pasca sejarah. Haass menamai era kita sebagai era ‘pasca perang dingin’.
Mengapa Haass masih menganggap era ‘pasca perang dingin’ ini sebagai masa pengukiran sejarah? Karena ternyata sistem kapitalisme masih punya jutaan kekurangan yang bisa mengantarkan dunia menuju kehancurannya. Artinya kapitalisme ini bukanlah sistem yang paling ideal untuk diterapkan secara berkelanjutan. Diantara kehancuran yang diakibatkan oleh kapitalisme adalah isu climate emergencies yang hingga kini masih marak diperbincangkan.

Bila kita menerima kesimpulan Haass bahwa kapitalisme masih punya banyak kekurangan dan bukanlah sistem yang ideal untuk memimpin dunia, artinya masih ada kesempatan untuk manusia membuat sebuah konsep pemikiran baru yang bisa digunakan untuk membimbing arah gerak kehidupan manusia. Masih ada kesempatan untuk manusia menerapkan sistem baru yang lebih sesuai demi kesejahteraan dunia. Jalut bisa dibunuh nabi Daud. Raksasa tak mungkin hidup selamanya.

Pertanyaan kedua, hubungannya sama masisir?

Untuk menjawab pertanyaan ini, kita kumpulkan dulu dua kesimpulan. Pertama, bahwa kita hidup di era yang perkembangannya sangat cepat sekali. Kedua, bahwa kita masih dalam masa pengukiran sejarah.
Selama kita belajar di Al-Azhar, atau semenjak kita mempelajari Islam dari masa sedini apapun, kita perlahan-lahan disadarkan bahwa agama Islam memiliki sebuah sistem yang begitu sempurna dan menyeluruh. Sistem yang Islam tawarkan mengatur manusia dari tidur hingga tidur lagi. Seluruh aktivitas manusia diantara dua tidur itu pastilah ada aturannya dalam tatanan sistem Islam.

Tidak hanya menyeluruh, sistem Islam ini pun dijamin akan selalu sesuai dengan tempat dan zaman. Jadi bila kita memandang sistem islam ini, pertanyaannya bukan “apakah sistem Islam ini sesuai dan bisa diterapkan?”, tetapi “bagaimana caranya sistem islam ini bisa kita terapkan?”

Pertanyaan “bagaimana cara sistem Islam bisa diterapkan” tentunya punya jawaban yang tidak pendek. Butuh ratusan strategi harus dibuat supaya akhirnya sistem yang paling sempurna ini bisa diterapkan dan diajukan sebagai solusi. Tapi bila kita tidak bisa menjawab seluruhnya, kita bisa menjawab satu bagian dari pertanyaan itu. “Siapa yang harus berjuang dalam merintis dan akhirnya mewujudkan cita-cita itu?”
Siapa lagi kalau bukan orang-orang yang punya pengertian mendalam tentang agama Islam?

Kita sebagai mahasiswa muslim (sadar atau tidak) pada dasarnya punya tanggung jawab itu. Bahkan mahasiswa muslim yang punya cita-cita paling sederhana “menjadi imam masjid kampung” pun sedang menyatakan bahwa ia akan berjuang untuk merintis cita-cita itu. Karena dengan meluasnya pemahaman Islam yang benar, masyarakat akan ikut merasakan bahwa hanya Islam satu-satunya tempat kembali dan mencari solusi dari beragam masalah yang kita hadapi.

Karena kita hidup di era yang sangat cepat berkembang, maka kita butuh melakukan banyak penyesuaian. Kita harus mempelajari bagaimana kita bisa ikut “berselancar” bersama cepatnya

 kemajuan dan perkembangan yang terjadi di era ini, sambil membawa misi sebagai mahasiswa muslim yaitu berdakwah dan mengajarkan ajaran islam seluas mungkin.

Dengan ikut berselancar pada arus yang cepat itu, tentunya misi yang kita bawa juga akan ikut terakselerasi dan kita bisa lebih cepat untuk sampai ke tujuan.

Apa tujuan kita? Menggapai janji Allah dimana dunia akan kembali dipimpin oleh satu-satunya agama yang hanif dan diridhoi oleh Nya. Itu bukan hal yang mustahil. Mengingat falsafah kapitalisme yang hingga saat ini masih memimpin dunia sudah mulai terlihat kekurangan dan boroknya. Mengingat kita masih ada di era pengukiran sejarah dimana masih ada peluang untuk mengganti falsafah yang sekarang sedang menggenggam dunia. Tentunya menangnya Islam itu tidak sesederhana berdirinya khilafah, atau berdirinya negara Islam. Tidak. Menangnya Islam adalah ketika cahaya iman menerangi seluruh pelosok dunia, dan Islam ditegakkan sebenar-benarnya oleh seluruh pemeluknya.

Bila ditanya apa peran saya terhadap masisir? Saya ingin mengajak masisir “berselancar” untuk akhirnya bisa sampai pada cita-cita yang paripurna, merampungkan masa ‘pengukiran sejarah’ dan beranjak ke masa ‘pasca sejarah’!

Oleh: Muhammad Fathan Winarto

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Penganugrahan Ushuluddin 2025: Menyalakan Semangat, Merawat Dedikasi

Qoah Burj, 19 Juli 2025 — Senat Mahasiswa Fakultas Ushuluddin sukses menggelar Penganugerahan Ushuluddin 2025 dengan tema " Appear Dedication to Maintain the Future ". Acara ini menjadi ajang apresiasi atas dedikasi mahasiswa berprestasi serta bentuk terima kasih kepada para donatur dan mitra yang telah mendukung perjalanan SEMA-FU selama ini. Acara dibuka pukul 12.05 siang waktu Kairo oleh pembawa acara dan pembacaan Al-Qur’an oleh Istikhori Azis. Dalam sambutannya, Neal Coutsar, selaku ketua panitia menegaskan bahwa Penganugerahan ini bukan sekadar bentuk penghargaan, namun juga ajang menyalurkan semangat dan membangun budaya akademik yang sehat. Dr. Rahmat Aming Lasim, M.B.A., selaku Koordinator Fungsi Penerangan dan Sosial Budaya KBRI Kairo turut menyampaikan bahwa mahasiswa luar biasa adalah mereka yang mampu melampaui batas muqarrar  dan tidak setengah-setengah dalam menuntut ilmu. Rangkaian acara dilanjutkan dengan pemaparan esai dari kandidat calon Mahasiswa Berpresta...

Fenomena dan Dinamika Talaqqi: Sebuah Analisa Terhadap Optimasi Keilmuan Masisir

Pendahuluan Dalam buku Journal of Islamic Studies yang diterbitkan Universitas Oxford, Universitas alAzhar Kairo berkali-kali disebutkan sebagai kampus dengan kajian keislaman terbaik, bahkan dinobatkan sebagai kampus yang paling berpengaruh dalam penyebaran ajaran keislaman di dunia. Hal ini dikarenakan sistem pembelajarannya yang masih cenderung autentik dari ratusan tahun yang lalu, yaitu dengan bermulazamah terhadap seorang guru atau yang dikenal sebagai ‘syekh’ serta menggunakan kurikulum keilmuan yang sudah disusun sesempurna mungkin oleh para pendahulu. Sistem pembelajaran ini kemudian dikenal dengan istilah at-Ta’alum fi al-Jami’ wa al-Jami’ah , tentu istilah tersebut tidak asing dalam pengetahuan mahasiswa Indonesia di Universitas alAzhar Kairo (masisir). At-Ta’alum fi al-Jami’ adalah kegiatan belajar-mengajar yang diikuti oleh murid di luar wilayah kampus, seperti di dalam masjid al-Azhar. Sebaliknya, at-Ta’alum fi al-Jami’ah adalah kegiatan belajar-mengajar para mahasis...

Day-1 Pekan Keilmuan: Seminar Fakultatif Menjadi Langkah Konkret SEMA-FU dalam Mencegah Salah Pilih Jurusan

Aula DAHA KMJ, 12 Juli 2025 – Sebanyak 63 mahasiswa Fakultas Ushuluddin memadati Aula DAHA KMJ hari ini dalam Seminar Fakultatif pembuka Pekan Keilmuan. Acara yang digagas Senat Mahasiswa Fakultas Ushuluddin ini menghadirkan penjabaran mendalam tentang empat penjurusan ( tasy'ib ). Seminar yang dimoderatori langsung oleh Ketua Senat Mahasiswa Fakultas, Wildan Akbar Fathurrahman menghadirkan mahasiswa yang ahli pada masing-masing syu'bah : Syu'bah Akidah dan Filsafat dijelaskan secara gamblang oleh Mohammad Ghibran Alwi Syu'bah Dakwah dipaparkan oleh Farhan Ali Ishaqi. Syu'bah Tafsir dihadirkan oleh Holilur Rohman M.Zubaidi, Lc., M.A. Syu'bah Hadis dijelaskan oleh Ustazah Alya Mafais, Lc., Dipl.  Di berbagai sesi, para pemateri menyampaikan pesan serupa tentang memilih penjurusan. Mereka secara tegas menekankan: "Tidak ada jurusan yang secara mutlak susah atau mudah. Setiap syu'bah memiliki tantangan dan karakteristiknya masing-masing. Kunci untuk mampu ...